Pada hari-hari awal bioskop, ketika film baru ditemukan, tidak ada yang dengan jelas memahami pilihan dan keterbatasan genre tersebut. Kamera ditempatkan pada posisi optimal untuk menangkap aktivitas dan kemudian dihidupkan. Namun sinematografer dengan cepat menyadari bahwa kamera dapat memberikan lebih dari satu perspektif tanpa membingungkan penonton. Kamera bisa dipindahkan, momen yang tidak relevan bisa dijatuhkan, serta waktu maupun ruang dapat dikompresi. Namun apa yang bekerja dan apa yang tidak? Apa yang terasa benar dan mengapa? Mari kita lihat evolusi teori pengeditan dan artinya bagi kita hari ini.
Evolusi Teori Pengeditan Naratif
George Méliès adalah seorang sinematografer dan ahli teori film awal. Banyak yang mengenalnya karena menemukan “stop trick”—teknik menghentikan kamera, mengubah posisi objek, lalu menyalakannya kembali sehingga objek tampak muncul atau menghilang. Ia juga bereksperimen dengan bingkai lukisan tangan, eksposure ganda, dan selang waktu (time-lapse).
Méliès sangat percaya bahwa film dapat menggunakan serangkaian gambar atau adegan lengkap yang ditangkap dalam satu bidikan untuk membentuk cerita yang lebih panjang. “Tableaus terkait” (rangkaian adegan yang dihubungkan) ditempatkan dalam perkembangan bertahap untuk menghubungkan peristiwa. Film pendeknya pada tahun 1898, “A Trip to the Moon”, menggabungkan ide-ide ini.
Membangun konsep ini, seniman seperti Edwin S. Porter belajar menceritakan banyak alur cerita sekaligus dan memotong di antara keduanya (cross-cutting), membentuk plot yang lebih besar dan menyeluruh. Film pendek tahun 1903 bertajuk “The Great Train Robbery” menggunakan aksi simultan untuk menunjukkan kejadian yang berlangsung di dua tempat berbeda pada saat yang bersamaan.

Seiring perkembangan bioskop, para pembuat film mengembangkan narasi yang lebih panjang yang disampaikan melalui tablo yang terhubung. Film-film seperti “A Trip to the Moon” karya Méliès mungkin tampak sederhana saat ini, tetapi ini adalah langkah pertama dalam memahami kekuatan dan kemungkinan pengeditan.
Efek Kuleshov dan Montase Rusia
Pada dekade 1910–1920, antusiasme terhadap bioskop menyebar ke seluruh Eropa dan Asia, khususnya memicu gerakan teoritis besar di Rusia. Lev Kuleshov dan para sejawatnya memecah adegan menjadi montase bidikan yang lebih kecil—semuanya berbeda namun saling berhubungan. Hal ini memungkinkan pemirsa mendekati aksi dari berbagai sudut sekaligus untuk mendapatkan wawasan terbesar.
Kuleshov menemukan bahwa penonton dapat dimanipulasi secara emosional melalui penjajaran bidikan (juxtaposition) yang direncanakan. Bagaimana informasi disajikan memengaruhi cara pandang terhadap bidikan individu. Pemirsa menafsirkan ekspresi wajah seorang pria secara berbeda tergantung pada bidikan gambar apa yang ditempatkan di sebelahnya. Fenomena psikologis ini kita kenal sebagai Efek Kuleshov.
5 Jenis Montase Vsevolod Pudovkin
Vsevolod Pudovkin mendalilkan bahwa pada dasarnya ada lima jenis montase yang masing-masing memberikan makna spesifik bagi pemirsa:
- Potongan untuk Kontras: Penggabungan bidikan yang berbeda secara dramatis agar pemirsa membandingkan keduanya.
- Potongan untuk Paralelisme: Menghubungkan satu bidikan atau adegan dengan elemen serupa di adegan lain.
- Potongan untuk Simbolisme: Menggunakan elemen atau perasaan dalam satu bidikan untuk menjelaskan atau memperjelas adegan lain.
- Simultaneity (Keserentakan): Jalinan dua peristiwa yang terjadi pada waktu yang bersamaan.
- Leitmotif: Pemotongan berulang di antara konsep terkait sehingga tema utama muncul di antara keduanya.
Film karya Pudovkin, “Mother” (1926), menjadi karya klasik penting yang mengilustrasikan teori-teori ini.
Ada lebih banyak makna dalam mengedit daripada sekadar menempatkan bidikan di samping satu sama lain.
Sergei Eisenstein berpendapat bahwa bidikan dan adegan masing-masing mengandung ide, konsep, dan perasaan tersendiri. Namun, ketika ditempatkan secara strategis satu sama lain, pemirsa dapat menyimpulkan makna ketiga yang sepenuhnya baru. Konsep ini, yang ia sebut Montase Intelektual, diwakili secara ulung dalam film “Battleship Potemkin” (1925).

Pengambilan Gambar Panjang (Long Take) dan Realisme Sinematik
Berseberangan dengan postulat artistik Rusia, gerakan filosofis lain berkembang di Prancis dan Italia. Gerakan ini berargumen bahwa cara terbaik mendekati konteks nyata adalah dengan menunjukkan sebanyak mungkin tanpa campur tangan pemotongan berlebih, sehingga pemirsa dapat menarik kesimpulan dari perspektif yang lebih realistis.
Ahli teori dan kritikus André Bazin meyakini bahwa pengambilan gambar panjang (long take) adalah pendekatan yang secara fundamental menghormati realitas ruang dan waktu. Pendekatan ini menuntut kamera berlaku sebagai mata penonton yang netral tanpa manipulasi potongan montase yang agresif. Film “The 400 Blows” (1959) karya François Truffaut menjadi representasi utama dari filosofi ini, yang diakhiri dengan pengambilan gambar panjang karakter utama berlari melintasi pantai kosong untuk menyampaikan rasa ketidakpastian dan ambiguitas.
Pendekatan long take kini banyak diadopsi dalam gerakan slow cinema oleh sutradara seperti Gus Van Sant, serta dalam video musik sebagai bentuk respon estetika terhadap pemotongan gambar cepat modern.
Teori Pengeditan dalam Praktik Modern
Praktik modern memadukan berbagai pendekatan sesuai kebutuhan emosional adegan. Sebagai perbandingan, adegan kejahatan yang diambil hanya dari satu bidikan lebar statis mungkin terasa datar dan tidak melibatkan penonton secara sinematik.
Sebaliknya, dengan menggunakan montase terencana:
- Memotong ke bidikan sisipan (insert shot) dari lirikan mata penembak menuju senjata di meja.
- Menggunakan potongan termotivasi (motivated cut) untuk memperjelas posisi dan detail objek.
- Menggunakan eyeline match dan bidikan sudut pandang (point of view) untuk menyatukan ruang antara karakter dan pengamat luar.
- Menerapkan pengeditan paralel untuk membangun akselerasi waktu dan ketegangan puncak menjelang konfrontasi.
Di sisi lain, long take sangat efektif saat membawa emosi yang membutuhkan perenungan mendalam. Mengikuti seorang tahanan yang diborgol berjalan masuk ke dalam sel dalam satu adegan berkesinambungan tanpa pemotongan memperkuat tema isolasi, kesepian, dan durasi waktu yang terasa lambat.
Sidebar: Master Modern — Edward Dmytryk
Edward Dmytryk (1908–1999) adalah legenda penyutradaraan dan pengeditan film. Bukunya, “On Film Editing”, menjadi bacaan wajib di berbagai sekolah film. Dmytryk mendalilkan bahwa hanya ada satu tempat yang sempurna untuk memotong bidikan, dan ia merumuskan tujuh aturan utama pengeditan film. Walaupun berfokus pada pita film analog, prinsip-prinsip dasarnya tetap menjadi fondasi penting dalam era pengeditan digital saat ini.
Meskipun montase dan long take pada dasarnya memiliki filosofi bertentangan, keduanya tidak saling meniadakan. Editor profesional harus menggabungkan kedua pendekatan ini secara harmonis. Ketika kita memahami alasan di balik setiap potongan, pengeditan menjadi lebih presisi, makna menjadi jelas, dan penonton akan semakin larut dalam narasi visual yang disajikan.
